Silahkan baca terlebih dahulu yang ini, sejarah tahun gajah , bagi yang belum membacanya. karena tulisan tahun gajah di bawah adalah terusannya. kami akan tulisankan sejarah tahun gajah bagian yang kedua,dan semoga bermanfaat.

Sejarah Tahun Gajah bagian kedua

Setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya datang juga gajah kebanggaan negeri najasi itu. Meskipun hanya bermaksud merobohkan ka'bah, abrahah tetap membawa pasukan perangnya termasuk gajah yang baru datang dari negeri asalnya. Binatang bermata sipit, berkuping lebar itu berjalan pelan ketika bertolak dari Yaman menuju Mekah. Dia berada dibarisan paling depan. Jalannya tenang, memamerkan tubuh gempalnya yang di sanggah empat kaki bulat-bulat seperti pohon korma. Satu-satunya pemandangan tak sedap hanya terlihat di bagian belakang gajah itu. Ekornya yang tak sebanding dengan tubuhnya, terlihat menjuntai seperti seekor cacing keluar dari tubuh tambunnya. Selain benda yang satu ini, semua terlihat sempurna menambah kegagahan, dan menceritakan gajah yang tidak ada duanya. Kegagahannya tambah terasa denga nama yang disandangnya, "Mahmud" (yang terpuji). Dan binatang itu memang layak di puji atas ke elokannya.

Kepergian Abrahah yang membawa pasukan cukup besar sangat menggemparkan jazirah arab. Mulai dari pasukan berjalan kaki, tentara berkuda, dan penunggang gajah, semua dibawanya. Derap langkah kaki mereka menggetarkan siapapun, meskipun jaraknya masih bermil-mil di depan. Debu-debu berhamburan seperti asap hutan terbakar, membumbung dari tiap jalan yang di lalui pasukan perang itu. Dzu Nafar, salah seorang penguasa di pinggiran Yaman bersama pasukanya mencoba untuk menghalau Abrahah. Namun usahanya sia-sia belaka, tentaranya berhasil di gebuk pasukan abrahah, dan dia sempat tertawan walaupun akhirnya bisa menyelamatkan diri setelah di beri ampunan oleh Abrahah.

"Wahai raja !, biarkanlah aku hidup karena sesungguhnya membiarkan aku hidup, lebih baik daripada membunuhku !"
Mohon Dhu Nafar.

Mendengar permohonan itu, Abrahah mentertawakannya, meskipun akhirnya mengabulkan permintaan Dzu Nafar.

Di daerah Khats'am, Abrahah kembali mendapatkan perlawanan tak seimbang dari Nufail, bin Habib Al-khats'am dan sebagian penduduk pinggiran. Usaha mereka juga bisa dipatahkan oleh abrahah, dan Nufail berhasil ditangkapnya.

"Wahai raja, sesungguhnya aku bisa menjadi penunjuk jalan bagimu menuju ke daerah arab. Oleh karena itu, biarkanlah aku hidup ".
Bujuk dari Nufail.

Lanjutkan menulis, sejarah tahun gajah.

Keduanya sepakat, Nufail dibiarkan hidup dan sesuai janjinya, ia bersedia menjadi penunjuk jalan.
Ketika sampai di Thaif, Mas,ud ibnu Nu,ais bersama beberapa orang lelaki daerah Tsaqif menemui Abrahah. Ketika itu juga Thaif mempunyai tempat suci yang tak kalah populer. Mungkin kedatangan mereka untuk memastikan pada Abrahah, bahwa ia belum sampai tujuan. Hal ini perlu dilakukan agar Abrahah tidak keliru merobohkan kuil berhala Latta, bangunan suci mereka. 
Mas,ud bin Nu,ais berkata, 
"Wahai paduka raja, ! Kami adalah hambamu, diantara kita juga tidak pernah ada permusuhan. Silahkan tuan melanjutkan perjalanan, dan kami akan mengirimkan seorang penunjuk".

Mereka lantas mengirimkan budak bernama, Abu Righal. Kini Abrahah mempunyai dua orang penunjuk jalan yang akan mempermudahkan perjalanannya menyusuri padang pasir yang panas, dan gersang. Namun ketika sampai di daerah Maghmas, budak pemberian Mas,ud bin Nu,ais mati, sehingga Abrahah hanya bisa mengandalkan ketajaman Nufail mengarungi hamparan padang pasir yang seolah tak bertepi itu. Masalah ini tidak mengganggu rencana semula karena jarak Maghmas ke mekkah sudah tidak terlalu jauh. Mereka memutuskan untuk mendirikan kemah di situ, dan mematangkan strategi militernya.

Setelah berjalan beberapa hari, kini kian jauh jarak yang telah mereka tempuh, dan makin dekatlah kota Mekkah. Semangat pasukan Abrahah kembali pulih setelah kelelahan melawan beratnya perjalanan. Beberapa mil lagi mereka akan memasuki kota Mekkah. Di tempat itu, Abrahah melakukan pengecekan kembali terhadap pasukannya. Dalam kesempatan tersebut, ia mulai menebarkan terror pada penduduk tanah haram. Pasukan berkuda yang dipimpin Al-aswad bin Mas,ud diperintahkan untuk merampas binatang ternak milik penduduk sekitar Mekkah. Dua ratus seekor onta milik Abdul Muthalib, berhasil mereka rampas. Pada kesempatan yang sama, Abrarah juga mengutus Hanathah bin al-Humairy untuk berunding dengan pemuka Quraish.
Dia berpesan pada juru rundingannya ini.

"Tanyakanlah siapa pembesar Mekkah. Sampaikan pada mereka, bahwasanya kedatanganku bukan untuk berperang, akan tetapi kedatanganku hanya untuk merobohkan Baitullah".

Seperti halnya al-Aswad, begitu amat yang di embannya telah dipahami, Hanatnah dengan gagahnya langsung melesat ke Mekkah. Sedikitpun ia tidak mendapatkan kesulitan untuk menemukan pimpinan kaum Quraisy yang saat itu dipegang oleh Abdul Muthalib. Tanpa panjang lebar, utusan Abrahah ini langsung menuturkan maksud kedatangannya.
"Sesungguhnya raja Abrahah mengutuskan aku untuk mengabarkan bahwa kedatangannya bukan untuk berperang, akan tetapi ia hanya ingin merobohkan baitullah lalu pergi meninggalkan kalian."

Sebagai seorang pemimpin, Abdul Muthalib mencoba untuk tetap tenang menyikapi keadaan. Beliau tidak ingin menambah keresahan warganya yang telah diselimuti ketakutan akan penyerangan besar-besaran yang akan dilakukan Abrahah.

Dengan penuh wibawa, beliau menjawab,
"Tidak ada alasan bagi Abrahah untuk memerangi kami, dan kami juga tidak mempunyai kekuatan untuk mencegah dia datang ke Mekkah untuk tujuan tersebut. Sesungguhnya ini adalah rumah tuhan dan Ibrahim kekasih Allah, maka yang berhak melarangnya adalah Allah Swt. Demi Allah, kami tidak mempunyai kekuatan untuk mencegahnya."

Pembicaraan tidak hanya sampai di situ,
Akan kami sambung tulisan lanjutan kaitan sejarah tahun gajah pada kesempatan lain kali. Insyaallah .

Alhamdulillah setelah membaca tentang Sejarah, caradailku akan coba untuk menyimpannya di blog sederhana ini. Ada juga Sejarah atau Kisah Wafatnya Siti Aminah, selaku ibundanya Nabi Muhammad Saw. Sebenarnya ada beberapa alasan kenapa caradailku kok sempat-sempatnya menulis sejarah yang begitu banyak tulisannya, dan apakah tidak merasa sungkan atau rugi karena menulis kaitannya dengan Sejarah Tahun Gajah, Sejarah Wafatnya Siti Aminah, dan Masih banyak lagi.

Alasan caradailku menulis sejarah yang hubungannya dengan baginda Nabi Muhammad Saw, yaitu untuk mengenang perjuangan beliau, keluarga beliau, dan untuk menceritakan kepada keturunan kami kelak. Insya Allah.
Dan sungguh sangat ironis, apabila umat islam, tidak ingin tahu kaitan dengan Sejarah Beliau.

Dengan alasan di atas, mungkin itu alasan tepat kenapa caradailku tidak sungkan menuliskan sejarah di blog ini.
Tetap semangat sobat.
0 Komentar untuk " ini dia, sejarah Tahun Gajah bagian yang ke dua"

Terima Kritik dan Saran..tapi ingat, jangan spam yeah ?
Terimakasih